Sumedang Puseur Budaya Sunda

beungeut-kuring-deui-ah

oleh Aam Permana S

Kabupaten Sumedang sudah lama memproklamirkan diri sebagai puseur budaya Sunda. Salahsatu alasan Sumedang memproklamirkan diri seperti itu, sebagaimana disampaikan tokoh Sumedang Bibing Rusmana, karena di Sumedang banyak sekali seni budaya. Seni budaya tersebut tumbuh dan tetap hidup di masyarakat Sumedang, hingga saat ini.

“Yang juga jadi pertimbangan, adalah karena Sumedang merupakan daerah yang dipilih Pajajaran untuk menerima mahkota Kerajaan Pajajaran yang bernama binokasih,” kata Bibing suatu ketika kepada penulis.

Namun yang jadi persoalan sekarang, Sumedang ternyata tidak menunjukkan diri sebagai pusat budaya Sunda di Jawa Barat. Sejak menyatakan diri sebagai pusat budaya, menurut hemat penulis, di Sumedang tidak pernah ada kegiatan yang menggambarkan sebagai puseur budaya. Sumedang, boleh dikatakan sepi dari ingar-bingar kegiatan seni budaya, walau perlu diakui ada juga kegiatan yang mencoba mengarah ke sana.

Rasanya, Sumedang kalah jauh oleh Purwakarta. Kabupaten  yang walaupun tidak memproklamirkan diri sebasai puseur budaya Sunda di Jawa Barat ini, berhasil melakukan gebrakan-gebrakan menawan menyangkut seni budaya. Bupatinya pun berhasil memperlihatkan perhatiannya kepada seni budaya. Sang Bupati bahkan siap datang ke kabupaten atawa kota lain, demi untuk kegiatan seni budaya Sunda.

Namun penulis mafhum jika Sumedang pada akhirnya seperti itu. Alasannya, karena ketika Sumedang menyatakan diri sebagai puseur budaya Sunda, yang menjadi bupatinya bukanlah pituin Sumedang atau Sunda, sehingga (maaf) bila yang bersangkutan kurang paham soal arah idealisme tersebut. Makanya, ketika Sumedang dinobatkan sebagai puseur budaya Sunda, tidak ada hal “wah” yang dilakukan Sumedang.

Seniman dan budayawan Sumedang seperti halnya Bibing Rusmana, sebenarnya mempunyai berbagai konsep yang menarik untuk mengembangkan Sumedang sebagai puseur budaya. Hanya, karena pemerintahannnya kurang mendukung, konsep yang menarik dan bagus tersebut, tidak pernah terealisasi hingga sekarang.

Sekarang, setelah pemerintahan Sumedang berganti-ganti pimpinan, keadaannya lebih parah lagi. Warga, politisi dan eksekutif di Sumedang sepertinya sudah lupa akan Sumedang sebagai puseur budaya Sunda. Pasalnya, semua konsentrasi boleh dikata terpusat kepada soal suksesi, atawa hal lain yang tidak berkaitan dengan seni budaya.

Banyak yang pesimistis Sumedang bisa membuktikan diri sebagai puseur budaya Sunda di Jawa Barat. Namun penulis masih optimistis, Sumedang bakal seperti diharapkan dalam kaitan dengan seni budaya, terlebih bila Sumedang didukung oleh kerjasama solid antara polisi, budayawan dan wartawan! Penulis bahkan optimistis majunya Sumedang dalam seni budaya dan hal lainnya, hanya masalah waktu saja. Cag!

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *