Penangkapan Kembali Habib Bahar Tak Mendasar

Foto: Habib Bahar Smith.
Dokumen/e-media

E-media, Bandung – Pengacara Bahar bin Smith, Habib Novel menilai, pelanggaran asimilasi yang di lakukan Habib Bahar, menurut dia tidak mendasar. Novel menganggap tidak ada pelanggaran yang dilakukan oleh kliemnya tersebut.

“Saya melihat ini tidak mendasar karena apa yang beliau langgar,” kata Novel, via pesan singkat, Selasa (19/5/2020).

Novel menjelaskan, terkait dengan ceramahnya usai bebas kemarin, yang dianggap jadi pelanggaran program asimilasi, menurut dia, sangat tidak mendasar.

“Beliau dijerat vonis bukan karena ceramah beliau kan. Saya sebutkan diatas bahwa beliau divonis karena jerat pasal 333 KUHP tentang perlindungan anak. Dan juga ceramahnya tidak ada ujaran kebencian dan tidak ada yang disebut nama oleh beliau,” kata dia.

Dia justru mencurigai, jika penangkapan terhadap Habib Bahar, lebih karena kepentingan politik. “Ini hanya diduga ada kepentingan politik, dimana kekuasaan sekarang sudah banyak sorotan karena berbagai macam krisis multi dimensi,” ucap dia.

Seperti diketahui, Bahar bin Smith yang lebih dikenal Habib Bahar, kembali harus mendekam di jeruji besi, karena melanggar ketentuan asimilasi. Bahar pun diketahui, diamankan di pondok pesantrennya di wilayah Bogor, dini hari tadi, Selasa (19/5/2020).

“Ya yang bersangkutan dikembalikan ke lapas Gunung Sindur. Saat diamankan, dia di jemput petugas bapas dan kalapas didampingi petugas kepolisian Bogor,” kata Kadiv Pas Kemenkumham Jabar, Abdul Haris, saat dikonfirmasi via pesan singkat.

Aris mengatakan, Bahar diamankan kembali kembali karena melanggar ketentuan asimilasi. Namun saat disinggung, apa pelanggarannya, Aris tidak menjelaskan hal tersebut.

“Program asimilasinya dicabut karena melanggar ketentuan assimilasi,” jelas Aris.

Aris mengatakan, Bahar akan kembali menjalani masa tahanannya. Padahal sebelumnya, Bahar bin Smith baru bebas dari Lapas Pondok Rajeg, setelah majelis hakim sendiri memvonis Bahar hukuman 3 tahun penjara atas perbuatannya menganiaya dua remaja Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki.

Bahar mendapatkan program asimilasi dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM). Bahar bebas dari Pondok Rajeg, pada Sabtu (16/5/2020).

“(Proses penahanan lanjutannya, satu tahun lima bulan lagi,” ucap dia.
(e-media/Bagja)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *