Cegah Penyakit Autoimun Dengan Merubah Pola Hidup

Marisza Cardoba Foundation (MCF), bersama dengan Clerry Cleffy Institute dan Firda Athira Foundation, menyelenggarakan kegiatan sosialisasi autoimun
di salah satu rumah makan di Bandung, Minggu (21/7/2019).
Foto: Abah Dolken

Bandung, e-media – Mendengar kata autoimun, kemungkinan masih asing bagi masyarakat Indonesia. Bahkan bisa jadi mereka menjadi tidak tahu, ketika ditanya tentang autoimun.

Autoimun adalah penyakit yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh salah menilai sel-sel sehat yang ada dalam tubuh, sebagai sel asing dan berbahaya. Akibatnya, tubuh yang memproduksi antibodi kemudian bisa menyerang dan merusak sel-sel sehat tersebut.

Kondisi ini kemudian menyebabkan munculnya berbagai gangguan kesehatan, termasuk timbulnya penyakit yang dinamakan autoimun.

Marisza Cardoba selaku Direktur Marisza Cardoba Foundation (MCF), dalam kegiatan sosialisasi autoimun bersama dengan Clerry Cleffy Institute dan Firda Athira Foundation, di salah satu rumah makan di Bandung, Minggu (21/7/2019), menjelaskan,
autoimun dapat memengaruhi hampir semua bagian tubuh, termasuk otot, saraf,otak, kulit, sendi, mata, jantung, paru-paru, ginjal, saluran pencernaan, hingga pembuluh darah.

“Belum banyak orang tahu apa itu penyakit autoimun, baik dari kalangan dokter atau masyarakat umum. Penyakit ini sudah menjadi epidemik di Indonesia dan berbagai belahan dunia,” kata Marisza.

Autoimun, menurut Marisza, sama kejamnya dengan penyakit kanker. Studi epidemiologi di dunia telah mengidentifikasi lebih dari 100 jenis penyakit autoimun. Selain bersifat kronis dan dapat menyebabkan kematian, untuk pengobatan autoimun membutuhkan biaya kesehatan yang tinggi.

Menurutnya, penyakit autoimun banyak menyerang kaum perempuan dan anak-anak ini, tidak dapat diketahui secara kasat mata gejala yang ditimbulkan dari penyakit autoimun.

Gejala autoimun, lanjut Marisza, hampir sama dengan penyakit lain pada umumnya, yaitu perlu proses dan biaya untuk pengecekannya.

“Salah satu gejala yang paling terlihat pada orang yang mengalami autoimun, adalah waktu aktifitasnya. Biasanya aktifitas normal seperti kita, bisa 15 sampai 16 jam. Namun bagi pasien yang mengidap autoimun hanya dapat beraktifitas 4 sampai 6 jam dan cepat kelelahan,” jelasnya.

Diakui Marisza, dia pun pernah mengidap autoimun sejak usia 4 tahun. Selama 25 tahun berjuang melawan autoimun, dan berkat disiplin dalam merubah pola hidup termasuk mengkonsumsi makanan, Marisza mengakui kini dia bisa hidup lebih sehat, dan bisa beraktivitas normal lagi. (Abah Dolken/e-media)

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *